Mau Dibawa Ke Mana Pendidikan Kita?

Awal tahun 2000-an, siswa sampai réla “terpaksa” ikut pengayaan di sekolah atau ikut kursus tambahan di bimbel karena takut tidak lulus ujian nasional. Ada sisi bagusnya yaitu akhirnya siswa dipaksa mengerti materi pelajaran.
Zaman sekarang, beberapa sekolah “menyarankan” agar guru memberi nilai anak-anak didiknya minimal 80. Alasannya agar nanti bisa bersaing mencari pekerjaan dengan siswa dari sekolah lain. Jadi, angka 80 bukan cerminan si anak tersebut cerdas. Bahkan, tahun ini siswa cenderung tidak mau ikut belajar daring. Ujian pun tidak ikut. Tapi ketika guru akan memberi nilai jelék, malah gurunya ditanya oléh Kepala Sekolah, “Ini zaman Covid. Sebelum memberi nilai jelék, pikirkan dulu, apakah kita sudah memberi pelayanan yang baik dan maksimal?”
Akhirnya dari pada répot, si guru memberi nilai bagus untuk siswa yang tidak menguasai materi.
Kondisi parah ini makin diperparah oléh orang-orang yang menentang kompetisi di sekolah. Makin santai lah anak-anak didik kita.
Mau dibawa ke mana pendidikan formal di Indonésia? Apakah sekolah hanya tempat penitipan anak di siang hari ketika orang tuanya sibuk bekerja? Sistem belajar seperti ini diam-diam meracuni anak didik kita. Padahal di negara lain, anak didik meréka dipaksa belajar keras agar cerdas dan terampil. Ketika akhirnya orang-orang asing dari luar negeri menang bersaing kemudian bekerja di Indonésia dengan posisi atas, sementara orang Indonésia kalah bersaing lalu menjadi bawahan, kita mengeluh, menyalahkan orang lain, tanpa menyadari bahwa ini semua adalah buah dari kesantaian kita di masa lalu.
Ah, sebagian orang Indonésia masih ada yang ingin santai tapi suksés. Mimpi!

RANKING

Apakah ranking di sekolah tidak diperlukan, karena ranking adalah suatu bentuk kompetisi?
Jangan lupa bahwa “sekolah” anak-anak zaman sekarang bukan hanya pada lembaga pendirikan formal, tapi juga game online.
Hampir semua game online mengajarkan persaingan. Téngok saja misalkan game ML (Mobile Legends) dan PUBG yang sangat terkenal. Bahkan pada game PUBG mode Squad (satu tim berisi 4 pemain, yang harus membunuh 96 pemain lainnya), tetap ada persaingan. Salah satu anggota tim yang “Winner-Winner Chicken Dinner” akan meraih MVP untuk yang paling banyak membunuh musuh.
Di sini ada persaingan.
Mungkin ada éfék buruk, tapi éfék bagusnya juga ada, yaitu pemain dirangsang untuk berlatih keras. Persaingan tak selamanya buruk.
Di Dunia kerja pun, ada persaingan. Yang berpréstasi, akan cepat mendapat promosi. Yang tidak berpréstasi terancam di-PHK. Justru bila tanpa persaingan, yang terjadi justru saling mengandalkan. Akibatnya kinerja tim menjadi loyo.
Ranking tak selamanya buruk. Yang penting tidak untuk mempermalukan siswa yang rankingnya terakhir. Cukup diumumkan 3 besar saja, kemudian yang 3 besar ini mendapat béasiswa.

Pada dasarnya anak suka berkompetisi, dan meréka bangga bisa menjadi yang terbaik. Tugas kita adalah membimbing dan mengarahkan agar kompetisi ini berjalan dengan baik dan beréfék positif, bukan malah menghindari kompetisi.

ADAB YANG MAKIN TERKIKIS

Apakah bapak/ibu pernah memperhatikan anak-anak yang bermain game PUBG? Pada game ini, kita bisa memilih teman (pada mode Squad, 1 tim berisi 4 pemain, yang harus mengalahkan 96 pemain lain yang juga membentuk tim).
Bila saya memilih tim yang anggotanya berbahasa Inggris, mayoritas meréka berbicara secara sopan. Tapi ketika saya memilih tim yang berbahasa Indonésia, saya sering bertemu dengan pemain toxic, yaitu pemain yang suka berkata-kata kasar, bahkan membully anggota timnya sendiri yang dianggap menjadi beban tim.
Ini bisa dijadikan gambaran, bahwa anak-anak kita harus lebih banyak diperhatikan, khususnya pada adab dan sopan santun. Pengaruh lingkungan sangat besar. Sayangnya, lingkungan yang baik hanya sedikit. Lebih banyak lingkungan yang buruk, yang mengajarkan hal-hal buruk kepada anak-anak kita.

Mawan A. Nugroho, M.Kom
Guru SMK sejak tahun 1998.

Related Posts

Leave a Reply